Longsor Ponorogo SAR FKAM

Mozaik Duka Korban Tanah Longsor Ponorogo

Mozaik duka korban bencana tanah longsor Banaran yang bisa menjadi renungan :

Bagaimana rasanya Bapak ibunya belum ditemukan tertimbun longsor dengan ditinggali 5 adik yang beberapa masih SD dan SMP, dia adalah kakak tertua dari 6 bersaudara yang terkena musibah. Bapak ibunya tertimbun saat memanen jahe dengan motivasi supaya jahenya tidak kelongsoran.

Bagaimana hanya dalam waktu beberapa detik longsor menghasilkan duka mendalam, pola longsor yang tidak bisa dinalar dengan akal manusia, bagaimana seseorang selamat dari longsor karena disuruh ganti baju dan ambil karung saat memanen jahe.

Bagaimana seorang bapak dan anak sudah siap lari dengan sepeda motor saat akan terjadi longsor tetapi motornya tidak bisa menyala saat diselah yang akhirnya ayah berserta anak dalam posisi boncengan ini juga tertimbun.

Bagaimana istri melihat dengan mata kepala sendiri suaminya dilahap tanah gembur tanpa komponen air.

Bagaimana saat ibu dan anak usia sekitar 5 tahun tertimbun di rumah saat memasakan suaminya.

Bagaimana para pemain dadu dan remi semalam suntuk sampai pagi keasyikan main juga tertimbun disana, Bagaimana orang malamnya kendurenan syukuran habis beli mobil paginya mobil tertimbun.

Bagaimana seorang perangkat desa yg bermaksud untuk melarang para petani dan menghimbau meninggalkan kebun jahe, sekaligus memfoto lokasi untuk bahan laporan justru juga ikut tertimbun dan belum ditemukan.

Bagaimana anak kecil yang sekolah dipanti saat pulang ayahnya dikabarkan ikut tertimbun belum ditemukan serta menangis terus menerus.

Bagaimana rasanya saat kedua orang tuanya meninggal bukan karena memanen jahenya sendiri tapi membantu memanen punya kerabatnya, yang sebenarnya rumah dan ladangnya aman tidak kena longsor.

Bagaimana rasanya seorang anak yang akhir tahun telah merencanakan pernikahan belum sampai waktunya kedua orang tuanya sudah meninggal.

Bagaimana rasanya seorang anak yang beberapa hari kedepan akan ada pertemuan wali murid sementara orangtuanya juga tertimbun.

Bagaimana rasanya saat dikabari bapak ibunya terkena longsor, sedang dia dalam posisi ada acara munas di Jakarta, saat pulang dengan kereta api ternyata delay.

Wallohua’alam Bishowab

#Sumber : 2 orang saksi mata yang melihat langsung kejadian, semuanya pingsan tanpa kena percikan longsor tetapi sempat melihat longsor, baru sadar saat sudah ada diberi oksigen dirumah kepala desa.

Ditulis oleh seorang (tidak ingin disebut namanya) di rumah kerabat korban.
Bintoro, Bekiring, Pulung, Ponorogo
Hari Ahad, 02 April 2017

“Pesan ini viral di media sosial. Kami kesulitan menyertakan sumber pertama”

NB : Cerita ini didapat oleh Relawan SAR FKAM dan dinyatakan valid oleh Lurah setempat Bapak Sarno, Semoga kita bisa mengambil hikmah dan menjadi bahan renungan bahwa kematian tidak menunggu waktu untuk datang. Mari persiapkan diri sebelum maut datang menghampiri.

Posted in Tanggap Bencana Alam and tagged , , .