prodin fkam halmahera

PRODIN FKAM 2016 : Perjalanan Dakwah Menembus Halmahera.

Saya Rhofiq Faizin, salah seorang dai yang ditugaskan dalam PRODIN FKAM 2016. Kisah ini mungkin akan sedikit panjang. Karena saya mengumpulkannya hingga bisa mendapatkan sinyal, baru kemudian mengirimkan untuk bisa dibaca oleh khalayak luas.

Tak terbesit sebelumnya bisa menginjakkan kaki di bumi Halmahera, Maluku Utara. Daerah rawan kristenisasi dan Syiahisasi. Wilayah yang jauh dari keramaian dan kemegahan Ibukota. Infrastruktur yang belum memadai jauh dari arti kemewahan duniawi. Listrik seringkali padam, sinyal ponsel yang tiba-tiba menghilang. Kesadaran akan pendidikan masih lemah. Minuman keras merajalela di tengah masyarakat. Disinilah peranan seorang Da’i dan guru diperlukan.

prodin fkam halmahera

Halmahera, tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai daerah konflik antar agama. Saling angkat senjata dan saling bunuh-membunuh. Antara Acang dan Obet. Dua kubu yang dulu sempat hidup berdampingan akhirnya harus berpisah. Sejak itulah muncul istilah orang sebelah. Harapannya konflik yang pernah terjadi tidak terulang kembali.

Halmahera, Banyak misteri, dari keberadaan Suku Togutil, Suku Lingon bermata biru dan adat istiadat Cukaiba sang pengusir setan, keindahan alamnya yang begitu eksotis. Pulau Maitara dan Tidore yang menjadi ikon mata uang seribu bersebelahan dengan Halmahera.

Perjalanan dimulai dari Ibukota Jakarta, transit di Manado, kemudian ke Ternate. Pertama kali saya mengira bahwa saya satu-satunya yang dikirim ke Halmahera. Namun ketika transit di Manado bertemu dengan tiga kawan lama yang bertujuan sama yaitu berdakwah di pelosok Halmahera.

Tiba di Ternate, saya teringat salah satu kesultanan Islam yang memasuki masa keemasan pada masa Sultan Baabullah dengan wilayah mencapai Filipina. Di Ternate saya dijemput dan disambut oleh seorang tokoh muslim yang disegani bernama Bapak H Ridwan. Seorang rektor, dosen dan juga salah satu pendiri Ponpes Islam Salman Al Farisi. Beliau berperawakan sederhana, tawadhu’ meski sudah berumur tak menyurutkan langkah untuk tetap berdakwah. Yang membuat terharu adalah ketika beliau menjadi Imam tak disangka beliau menangis. Betapa lembutnya hati beliau, hingga ketika membaca Kalamullah hatinya tersentuh dan menitikkan air mata.

prodin fkam halmahera

Menginap satu malam di Ternate, saya dan tiga kawan lama tadi melanjutkan perjalanan ke Halmahera pada esok harinya. Menggunakan speedboat berangkat menyebrang melewati laut yang begitu jernih airnya dengan pemandangan pulau Tidore yang begitu indah. Sesampai di pelabuhan Sofifi salah satu dari kami berangkat ke Malifut untuk berdakwah di sana. Malifut adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Sedangkan kami bertiga bertolak ke Ponpes Islam Salman Al Farisi. Pondok pesantren yang mengajarkan Islam, berperan sebagai warosatul ambiya’ (pewaris para nabi) di Halmahera.

Ponpes Islam Salman Al Farisi terletak di Desa Wairoro Indah, Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ponpes islam yang memiliki Visi “Membentuk generasi Muslim yang berilmu, bertakwa, berbudi mulia dan berkepribadian tinggi, menghayati, menjiwai, dan mengamalkan ajaran Islam secara murni dan menyeluruh” ini telah memiliki 160 santriwan dan santriwati dari tingkat MTs dan Aliyah.

Ponpes Islam yg didirikan pada tahun 2007 ini berjarak 110 Km dari pelabuhan Ibukota Maluku Utara Sofifi. Untuk menuju kesana saya harus menempuh perjalan jauh melewati hutan belantara. Listrik hanya ada pada malam hari, sinyal ponsel hanya ada mulai pukul 09.00 WIT sampai pukul 22.00 WIT. Itupun tidak bisa digunakan untuk Internet hanya untuk telfon dan sms. Sangat jauh dibanding kondisi kehidupan saya sebelumnya di pulau Jawa.

Yang luar biasa, segala keterbatasan tadi tidak melemahkan semangat para santriwan dan santriwati untuk terus belajar ilmu agama yang mulia ini. Para Asatidzah yang terdiri dari tujuh Ustadz dan tujuh Ustadzah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran mengajarkan mereka makna sesungguhnya kehidupan ini. Para Asatidzah yang kebanyakan asli Jawa adalah lulusan pesantren yang ada di Boyolali. Mereka meninggalkan kemapanan hidup di Jawa untuk berjuang merintis Pondok pesantren di pelosok Halmahera. Mengharap materi? Tidak mungkin. Setelah melihat kondisi di sini, saya sadar mereka hanya mengharapkan ridho Illahi.

prodin fkam halmahera
Satu hari satu malam berbaur dengan warga pesantren yang begitu ramah. Bahasa Indonesia berlogat khas Maluku yang membuat suasana berbeda. Alunan ayat-ayat suci bergema dari suara santriwan dan santriwati yang sedang melaksanakan ujian Tahfidz. Sangat indah dan begitu menyejukkan Qolbu.

Melihat begitu semangat luar biasa para santriwan dan santriwati dalam menuntut ilmu ditengah keterbatasan. Suasana ini yang kemudian membuat saya mengambil keputusan, menambah satu bulan lagi masa tinggal di sini. Saya ingin berbagi cara menggalang dana ummat untuk mendukung sarana prasarana yang menunjang proses belajar mengajar. Semoga kedepannya Ponpes Salman Al Farisi bisa lebih maju lagi dalam sarana dan prasarana, agar para santri pun menjadi lebih bersemangat. Akhirnya terlahir lah banyak para Ulama dan Da’i yang menyeru dalam kebaikan di bumi Halmahera dan Maluku ini.

prodin fkam halmahera

Setelah sehari semalam transit, akhirnya kami bertiga disebar untuk melaksanakan misi mulia. Satu ke Banemo, satu tetap di Wairoro, dan saya sendiri ke Weda.

Banemo adalah sebuah desa yang berada di pesisir pantai, Patani Barat, Halmahera tengah, Maluku Utara, dan sekarang terbagi menjadi tiga desa pemekaran yaitu: Desa Bobane Indah, Banemo (desa induk) dan Bobane Jaya. Banemo menyimpan berbagai sejarah mulai dari masuknya agama islam di pesisir Halmahera sampai pemberontakan PERMESTA. Wairoro adalah desa dimana Ponpes Salman Al Farisi berada, pagi dan siang hari mengajar di Ponpes, malam Berdakwah di tengah-tengah masyarakat sekitar Ponpes.

Sedangkan Weda adalah tempat yang saat ini menjadi wilayah dakwah saya. Bagaimana gambaran umum Weda, tantangan dakwah, kegiatan dakwah yang ada dll. Nantikan pada kisah selanjutnya.
_________________________________________________________________

Di momen penuh berkah ini kami ingin mengajak muhsinin sekalian untuk bersama-sama berbagi dan berebut fadhilah Ramadhan.
Salurkan zakat, infaq, sedekah, wakaf dan hibah anda untuk Program Dakwah Islam Indonesia (PRODIN) FKAM.
Bank Syariah Mandiri No Rek. 7083865878 a.n. Yayasan BaitulMal FKAM.
Untuk mempermudah penyaluran agar tidak tercampur dengan program lain, mohon menambahkan nominal Rp.400 (empat ratus rupiah).
Konfirmasi Bukti Transfer ke 0857-2516-7000
(contoh : Abdullah_Jakarta_Rp. 1.000.400_PRODIN).

Kami mengucapkan jazakumullah khoiron bagi para donatur yang ikut berpartisipasi dalam program ini, silahkan di share ke kerabat dan teman. Semoga jadi ladang pahala di bulan yang penuh berkah ini. Aamiin

Posted in Uncategorized and tagged , , .