Tag: Prodin FKAM

Safari Ramadhan Tarakan

Tarakan (BM FKAM) FKAM Tarakan kembali mengadakan safari romadhon sekaligus santunan kepada fakir miskin di daerah pesisir utara Pulau Tarakan tepatnya di Misaya Masjid Nurul Bahri.

safari ramadhan tarakan

safari ramadhan tarakan

safari ramadhan tarakan

safari ramadhan tarakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Acara dimulai dengan kultum Romadhon yang diikuti sekitar 50 jamaah Masjid Nurul Bahri dan anak-anak berlanjut berbuka. Sesudah sholat Isya’ di lanjutkan kultum oleh ustadz Daryono selaku da’I PRODIN (Program Dakwah Islam Nusantara) dari Brebes, Jawa Tengah. Pada akhir kultum santunan di berikan pada 16 fakir miskin yang di wakili oleh Bp. Bahar selaku takmir masjid. Safari ditutup dengan sholat tarawih berjama’ah.

PRODIN FKAM 2016 : Bulukumba Menyapa

Perjalanan dakwah memang tak selalu mudah. Ini kisah keberangkatan saya menuju medan dakwah di Bulukumba, Abu Abdillah melaporkan.

Ditugaskan untuk berangkat ke Bulukumba dalam program PRODIN FKAM 2016 ini, saya berangkat dari airport Adisucipto bersama saudara seperjuangan di AAQ, Andrean Fahrudin yang bertugas di Enrekang, Sulawesi Selatan. Tiba di airport Hasanuddin Makassar sekitar pukul 20.50. Di situlah saya berpisah dengan saudara saya. Dia masih menginap di kota Makassar sebelum esoknya melanjutkan ke Enrekang, sedangkan saya langsung dijemput oleh mobil yang akan mengantarkan ke Bulukumba.

PRODIN FKAM BULUKUMBA

PRODIN FKAM BULUKUMBA

Pak Hamsa namanya, orang yang menjemput saya di airport. Kami keluar dari kota Makassar sekitar pukul 10 malam. Sembari bercerita, beliau mengatakan pernah tinggal juga di Balikpapan tahun 80-an, kota asal saya. Saya mendengarkan cerita beliau sambil terkantuk-kantuk. Lelah dan dingin yang saya rasakan ketika itu menyebabkan mata terasa amat berat. Tiba-tiba mobil berhenti.

Pak Hamsa menyampaikan kalau dia tidak bisa mengantar sampai Bulukumba, tapi beliau akan mencarikan mobil yang menuju ke sana. Jam menunjukkan pukul 12 ketika saya sampai ke tempat menunggu mobil. Kaget ketika berhenti tadi ternyata berakibat cukup parah. Saya tidak lagi bisa memejamkan mata ketika menunggu mobil. Terlebih, kepala terasa pusing dan berat tapi tak bisa tidur. Penantian berakhir pukul 2 dini hari. Mobil yang menuju Bulukumba datang, mobilnya seperti Avanza atau Xenia, saya tak sempat memperhatikan karena begitu lelahnya.

Ketika masuk ke dalam saya dikagetkan dengan jumlah penumpang yang ada. Mobil ukuran Avanza itu diisi 10 orang penumpang. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya hanya untuk duduk pun. MasyaAllah, sungguh luar biasa pengalaman keberangkatan ini. Saya mendapat tempat duduk di pojok belakang, kebetulan penumpang yang duduk di belakang adalah perokok, lengkap sudah cobaan yang saya alami. Hehe.

Konon, angkutan semacam ini memang sudah lazim di Sulawesi Selatan. Semacam mobil pribadi, tapi digunakan untuk menangkut penumpang dengan trayek antar kota.

Sekitar pukul 6 sampailah saya di depan Stadion Kabupaten Bulukumba. Di sana sudah menanti Pak Haris, orang yang mengajukan permintaan dai di Bulukumba ini. Dikemudian hari banyak hal yang beliau lakukan untuk mendukung kelancaran dakwah saya di sini. Beliau pun mengantarkan saya ke Masjid Al-Mi’raj tempat saya bertugas nantinya. Masjid yang terletak di Jalan Poros Bocco Boccoe Dusun Paenre Lompoe Kec. Gantarang Kab. Bulukumba Sulsel.

Ada pengalaman menarik yang saya alami di hari pertama saya bertugas. Tepat sehari sebelum Ramadhan masuk. Tunggu kelanjutan kisahnya di laporan selanjutnya. Langsung dari Masjid Al-Mi’raj, Bulukumba.

PRODIN FKAM 2016 : Perjalanan Dakwah Menembus Halmahera.

Saya Rhofiq Faizin, salah seorang dai yang ditugaskan dalam PRODIN FKAM 2016. Kisah ini mungkin akan sedikit panjang. Karena saya mengumpulkannya hingga bisa mendapatkan sinyal, baru kemudian mengirimkan untuk bisa dibaca oleh khalayak luas.

Tak terbesit sebelumnya bisa menginjakkan kaki di bumi Halmahera, Maluku Utara. Daerah rawan kristenisasi dan Syiahisasi. Wilayah yang jauh dari keramaian dan kemegahan Ibukota. Infrastruktur yang belum memadai jauh dari arti kemewahan duniawi. Listrik seringkali padam, sinyal ponsel yang tiba-tiba menghilang. Kesadaran akan pendidikan masih lemah. Minuman keras merajalela di tengah masyarakat. Disinilah peranan seorang Da’i dan guru diperlukan.

prodin fkam halmahera

Halmahera, tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai daerah konflik antar agama. Saling angkat senjata dan saling bunuh-membunuh. Antara Acang dan Obet. Dua kubu yang dulu sempat hidup berdampingan akhirnya harus berpisah. Sejak itulah muncul istilah orang sebelah. Harapannya konflik yang pernah terjadi tidak terulang kembali.

Halmahera, Banyak misteri, dari keberadaan Suku Togutil, Suku Lingon bermata biru dan adat istiadat Cukaiba sang pengusir setan, keindahan alamnya yang begitu eksotis. Pulau Maitara dan Tidore yang menjadi ikon mata uang seribu bersebelahan dengan Halmahera.

Perjalanan dimulai dari Ibukota Jakarta, transit di Manado, kemudian ke Ternate. Pertama kali saya mengira bahwa saya satu-satunya yang dikirim ke Halmahera. Namun ketika transit di Manado bertemu dengan tiga kawan lama yang bertujuan sama yaitu berdakwah di pelosok Halmahera.

Tiba di Ternate, saya teringat salah satu kesultanan Islam yang memasuki masa keemasan pada masa Sultan Baabullah dengan wilayah mencapai Filipina. Di Ternate saya dijemput dan disambut oleh seorang tokoh muslim yang disegani bernama Bapak H Ridwan. Seorang rektor, dosen dan juga salah satu pendiri Ponpes Islam Salman Al Farisi. Beliau berperawakan sederhana, tawadhu’ meski sudah berumur tak menyurutkan langkah untuk tetap berdakwah. Yang membuat terharu adalah ketika beliau menjadi Imam tak disangka beliau menangis. Betapa lembutnya hati beliau, hingga ketika membaca Kalamullah hatinya tersentuh dan menitikkan air mata.

prodin fkam halmahera

Menginap satu malam di Ternate, saya dan tiga kawan lama tadi melanjutkan perjalanan ke Halmahera pada esok harinya. Menggunakan speedboat berangkat menyebrang melewati laut yang begitu jernih airnya dengan pemandangan pulau Tidore yang begitu indah. Sesampai di pelabuhan Sofifi salah satu dari kami berangkat ke Malifut untuk berdakwah di sana. Malifut adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Sedangkan kami bertiga bertolak ke Ponpes Islam Salman Al Farisi. Pondok pesantren yang mengajarkan Islam, berperan sebagai warosatul ambiya’ (pewaris para nabi) di Halmahera.

Ponpes Islam Salman Al Farisi terletak di Desa Wairoro Indah, Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ponpes islam yang memiliki Visi “Membentuk generasi Muslim yang berilmu, bertakwa, berbudi mulia dan berkepribadian tinggi, menghayati, menjiwai, dan mengamalkan ajaran Islam secara murni dan menyeluruh” ini telah memiliki 160 santriwan dan santriwati dari tingkat MTs dan Aliyah.

Ponpes Islam yg didirikan pada tahun 2007 ini berjarak 110 Km dari pelabuhan Ibukota Maluku Utara Sofifi. Untuk menuju kesana saya harus menempuh perjalan jauh melewati hutan belantara. Listrik hanya ada pada malam hari, sinyal ponsel hanya ada mulai pukul 09.00 WIT sampai pukul 22.00 WIT. Itupun tidak bisa digunakan untuk Internet hanya untuk telfon dan sms. Sangat jauh dibanding kondisi kehidupan saya sebelumnya di pulau Jawa.

Yang luar biasa, segala keterbatasan tadi tidak melemahkan semangat para santriwan dan santriwati untuk terus belajar ilmu agama yang mulia ini. Para Asatidzah yang terdiri dari tujuh Ustadz dan tujuh Ustadzah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran mengajarkan mereka makna sesungguhnya kehidupan ini. Para Asatidzah yang kebanyakan asli Jawa adalah lulusan pesantren yang ada di Boyolali. Mereka meninggalkan kemapanan hidup di Jawa untuk berjuang merintis Pondok pesantren di pelosok Halmahera. Mengharap materi? Tidak mungkin. Setelah melihat kondisi di sini, saya sadar mereka hanya mengharapkan ridho Illahi.

prodin fkam halmahera
Satu hari satu malam berbaur dengan warga pesantren yang begitu ramah. Bahasa Indonesia berlogat khas Maluku yang membuat suasana berbeda. Alunan ayat-ayat suci bergema dari suara santriwan dan santriwati yang sedang melaksanakan ujian Tahfidz. Sangat indah dan begitu menyejukkan Qolbu.

Melihat begitu semangat luar biasa para santriwan dan santriwati dalam menuntut ilmu ditengah keterbatasan. Suasana ini yang kemudian membuat saya mengambil keputusan, menambah satu bulan lagi masa tinggal di sini. Saya ingin berbagi cara menggalang dana ummat untuk mendukung sarana prasarana yang menunjang proses belajar mengajar. Semoga kedepannya Ponpes Salman Al Farisi bisa lebih maju lagi dalam sarana dan prasarana, agar para santri pun menjadi lebih bersemangat. Akhirnya terlahir lah banyak para Ulama dan Da’i yang menyeru dalam kebaikan di bumi Halmahera dan Maluku ini.

prodin fkam halmahera

Setelah sehari semalam transit, akhirnya kami bertiga disebar untuk melaksanakan misi mulia. Satu ke Banemo, satu tetap di Wairoro, dan saya sendiri ke Weda.

Banemo adalah sebuah desa yang berada di pesisir pantai, Patani Barat, Halmahera tengah, Maluku Utara, dan sekarang terbagi menjadi tiga desa pemekaran yaitu: Desa Bobane Indah, Banemo (desa induk) dan Bobane Jaya. Banemo menyimpan berbagai sejarah mulai dari masuknya agama islam di pesisir Halmahera sampai pemberontakan PERMESTA. Wairoro adalah desa dimana Ponpes Salman Al Farisi berada, pagi dan siang hari mengajar di Ponpes, malam Berdakwah di tengah-tengah masyarakat sekitar Ponpes.

Sedangkan Weda adalah tempat yang saat ini menjadi wilayah dakwah saya. Bagaimana gambaran umum Weda, tantangan dakwah, kegiatan dakwah yang ada dll. Nantikan pada kisah selanjutnya.
_________________________________________________________________

Di momen penuh berkah ini kami ingin mengajak muhsinin sekalian untuk bersama-sama berbagi dan berebut fadhilah Ramadhan.
Salurkan zakat, infaq, sedekah, wakaf dan hibah anda untuk Program Dakwah Islam Indonesia (PRODIN) FKAM.
Bank Syariah Mandiri No Rek. 7083865878 a.n. Yayasan BaitulMal FKAM.
Untuk mempermudah penyaluran agar tidak tercampur dengan program lain, mohon menambahkan nominal Rp.400 (empat ratus rupiah).
Konfirmasi Bukti Transfer ke 0857-2516-7000
(contoh : Abdullah_Jakarta_Rp. 1.000.400_PRODIN).

Kami mengucapkan jazakumullah khoiron bagi para donatur yang ikut berpartisipasi dalam program ini, silahkan di share ke kerabat dan teman. Semoga jadi ladang pahala di bulan yang penuh berkah ini. Aamiin

Prodin 2016 : Dauroh Menghafal Al Qur’an Kendal

Perkenalkan nama saya Ehsan Supiono. Salah seorang mahasantri AAQ FKAM asal Ponorogo. Meskipun kota asal saya sendiri membutuhkan tenaga da’I pada Ramadhan kali ini, tapi ternyata saya tidak ditugaskan kembali ke kampung halaman. Saya ditugaskan di Kota Kendal. Berharap pengalaman baru. Saya betul-betul dihadapakan dengan pengalaman luar biasa.

Sesampainya di Kendal, di hari pertama puasa Senin, 6 Juni 2016. Mendengar ada utusan dari sebuah Akademi peghafal Al-Qur’an, saya diberi tugas untuk bergabung mengurus Daurah menghafal Al-Qur’an. Diamanahi menjadi satu dari 4 orang ustadz penyimak hafalan putra, ini pengalaman pertama saya.

Peserta dauroh yang diselenggarakan oleh FKAM Kendal dan Al-Hijroh Organizer, dauroh menghafal Al-Qur’an ini menyedot perhatian cukup besar. Tercatat peserta putra ada 56 orang. Yang luar biasa, ternyata ada peserta yang masih duduk di bangku SMP. Semangatnya membuat saya malu, mengapa saya baru mengafal Al-Qur’an selepas SMA di AAQ FKAM. Konon katanya ada 80 peserta putri juga yang ikut dauroh serupa. Saya tidak tau persis, karena tempatnya dipisah dengan yang putra.

Menghafal dengan cara dikarantina seperti ini ternyata efektif. Terbukti, sejak lepas subuh tadi pagi, hingga pukul 10 malam ini hampir non stop (di sore hingga tarawih saya bertugas mengajar TPA dan imam tarawih di tempat yang lain, kisahnya akan saya ceritakan di kesempatan selanjutnya) saya menyimak setoran dari para peserta. Capek, lelah yang dirasa hilang ditelan rasa haru atas semangat mereka menghafal Al-Qur’an. Barokallahu fiekum. Semoga Allah menjadikan kita semua para penghafal Al-Qur’an. Bagaimana progress para peserta dauroh ini di hari-hari berikutnya? Simak terus kisah dakwah saya di Kendal dalam program PRODIN ini.

Prodin 2016: Sebuah Cerita dari Dai Klaten

(Senin, 06 Juni 2016) Suasana lengang di kompleks Akademi Al-Qur’an FKAM belum bisa akrab dengan kami. Kampus yang biasanya dijejali 22 mahasantri itu sepi menyisakan kami ber-4. Semua teman seperjuangan kami sedang mengemban tugas di tanah rantau tempat mereka berdakwah.

Puasa hari pertama tak membuat semangat kami surut. Kami ber-4 diamanahi wilayah Klaten sebagai medan dakwah. Terkhusus di Desa Kranggan, Polanharjo, tempat dimana AAQ FKAM berada. Untuk itu selepas sholat Subuh dan tilawah kami berempat ditemani pembibing kami, Mas Wisnu menyusun strategi agar dakwah yang dilakukan bisa efektif di musholla al-Mabrur.

Tinggalnya kami berempat di kandang, tak lalu menyebabkan kami berputus asa. Karena kami sadar, ibarat permainan bola, seapik apapun striker, playmaker dan sayap kanan kiri, jika pertahanan dan kipernya tidak handal, maka akan kesusahan juga. Oleh karenanya kami namakan grup dakwah kami ini “Garda Belakang”. Grup yang beranggotakan 4 orang; Jundu Rahman, Rouful Hakim Wimbo, Yogi Imam Nugroho, dan Muhammad nazar ini berkomitmen untuk melakukan yang terbaik untuk diri kami, perjuanga dakwah ini, AAQ FKAM, dan masyarakat sekitar.

Dalam briefing, kami bersepakat untuk selalu menjaga semangat kebersamaan dan semangat dakwah. Bukan hanya dakwah kepada masyarakat, namun kepada diri dan lingkungan juga kami laksanakan. Menurut data sementara, Ada 4 masjid yang akan kami hadiri selama bulan Ramadhan. Data lapangannya akan muncul nanti sore, setelah kami berangkat menjelajahi medan dakwah kami. Bagaimana kelanjutan kisah dakwah “Garda Belakang”? Nantikan kelanjutannya.

#Prodin2016
#AAQFKAM

****

Di momen penuh berkah ini kami ingin mengajak muhsinin sekalian untuk bersama-sama berbagi dan berebut fadhilah Ramadhan.

Salurkan zakat, infaq, sedekah, wakaf dan hibah anda untuk Program Dakwah Islam Nusantara FKAM.
Bank Syariah Mandiri No rek. 7083865878 a.n. Yayasan BaitulMal FKAM.
Untuk mempermudah penyaluran agar tidak tercampur dengan program lain, mohon menambahkan nominal Rp.400 (empat ratus rupiah). Konfirmasi transfer 0857-2516-7000 (contoh : Abdullah_Jakarta_Rp. 1.000.400_PRODIN).

Kami mengucapkan jazakumullah khoiron katsiiroo bagi para donatur yang ikut berpartisipasi dalam program ini, silahkan di share ke kerabat dan teman. Semoga jadi ladang pahala di bulan yang penuh berkah ini.Aamiin